Senin, 08 Oktober 2012

DAMPAK BURUK RASA KAGUM YANG BERLEBIHAN

Demam K-POP saat ini sedang melanda sebagian besar remaja Indonesia. Boyband, girlband, solois bahkan hingga rapper dari Negeri Ginseng tersebut menjadi populer di kalangan remaja. Mulai dari remaja yang tinggal di kota hingga remaja-remaja yang ada di pelosok desa. Kita bisa mendengar lagu-lagu K-POP dimana saja. Pernak pernik K-POP, mulai dari poster, wallpaper dan tema handphone hingga biografi seputar K-POP pun menjadi laris manis. Gaya berpakaian, gaya rambut dan gaya berdandan pun berbau K-POP-isme. Gema K-POP benar-benar terasa di negeri ini.

Apa penyebab ini semua? Apalgi jika bukan sifat dasar remaja atau bahkan sebagian besar rakyat Indonesia yang terlalu mudah kagum atau heboh terhadap sesuatu. Masyarakat kita terlalu mudah "wow" terhadap sesuatu yang baru. Ya mungkin memang tidak semuanya yang benar-benar 'ngefans'. Ada juga yang sekedar ikut-ikutan menjadi penggemar dadakan hanya karena takut dibilang ketinggalan jaman, kuno, katrok, dan tidak 'gaul'.

Pada dasarnya mengagumi atau 'ngefans' bukanlah hal yang dilarang. Itu merupakan hak setiap orang. Hanya saja kekaguman yang berlebihan itu yang tidak baik. Seperti ketika Justin Bieber ke Indonesia. Ada fans yang hingga menangis meraung-raung karena melihat sang idola. Rasa kagum yang berlebihan itu dapat menimbulkan berbagai masalah. Berikut adalah hal-hal buruk yang bisa terjadi karena rasa kagum yang berlebihan.

Membunuh kreatifitas
Rasa kekaguman yang berlebihan terhadap seseorang membuat kita cenderung menjadi 'pengikut'. Kita menjadi malas berpikir untuk menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru. Kita lebih nyaman menjadi serupa mengikuti sang idola dari pada menjadi berbeda dengan sesuatu yang baru. Otak kita yang sesungguhnya cemerlang tidak lagi bisa memunculkan ide-ide kreatif.

Ekspektasi yang berlebihan
Menjadi idola merupakan hal yang terlihat sangat menyenangkan. Memiliki banyak penggemar dan nama kita selalu dielu-elukan. Saat kita mengagumi suatu figur, kita cenderung menginginkan hal yang sama seperti yang dimiliki sang idola. Alhasil kita menjadi mengikuti segala hal yang dilakukan sang idola, sampai-sampai caranya dalam meraih kesuksesan. Sehingga muncul sifat 'sok artis' dalam diri kita. Kita menganggap kita bisa melakukan dan memiliki hal yang sama seperti sang idola. Padahal kita semua tahu setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda. Belum tentu bakat yang kita miliki serupa dengan bakat sang idola. Tetapi, karena ekspektasi kita untuk menjadi seperti sang idola akhirnya kita mengabaikan bakat yang kita punya.

Munculnya jiwa pesimis
Jika keinginan kita untuk menjadi seperti sang idola tidak terwujud, muncullah rasa putus asa dalam diri kita. Kita menjadi mengutuk diri kita sendiri karena tidak memiliki bakat seperti sang idola. Akhirnya kita menganggap diri kita adalah manusia tidak berguna yang tidak bisa apa-apa. Padahal, jika kita ingin mencari tahu, masih banyak bakat-bakat lainnya yang jauh lebih hebat yang kita miliki. Namun sayangnya, mata kita sudah dibutakan keinginan 'ngartis' kita.

Menghalangi kebahagiaan
Pada dasarnya kebahagiaan itu disebabkan oleh rasa syukur kita. Saat kita mengidolakan seseorang secara berlebihan, kita hanya melihat kelebihan yang dimiliki sang idola tersebut, yang mungkin bukan kelebihan kita. Kita menjadi tidak sadar dengan kelebihan yang kita miliki. Alhasil kita menjadi jarang bersyukur. Kebahagiaan pun akhirnya menjauh dari kita.

Menguras isi kantong
"Ngefans" memunculkan keinginan dalam diri kita untuk menyerupai sang idola. Bayangkan jika seandainya sang idola berganti gaya rambut tiga kali dalam sebulan. Berganti gaya berpakaian enam kali dalam sebulan. Berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk 'memiripkan diri' dengan sang idola?

Jadi, bijak-bijaklah dalam mengagumi sesuatu. Ingat pepatah Jawa yang mengatakan "ojo kagetan, ojo gumunan" yang berarti jangan menjadi orang yang mudah heran, kagum, dan heboh terhadap sesuatu. Kagumlah dengan sewajarnya saja. Ambillah hal-hal yang baik dari apa yang kita kagumi.

Minggu, 30 September 2012

CURHATAN 28 SEPTEMBER 2012 : KEKHAWATIRAN DALAM LDR



Malam ini malam yang spesial karena saya mendapatkan 2 klien sekaligus. Hebatnya lagi mereka berkonsultasi nyaris dalam waktu yang bersamaan. Berikut kira-kira percakapan antara saya dengan klien.

A = klien
B = admin

A =  sedang apa?
B = sedang dalam perjalanan. Kenapa?
A = tidak apa-apa. Hehe
B = saya kira kamu mau curhat.
A = sebenarnya memang begitu.
B =  kalau begitu silahkan curhat.
A = tapi jangan dipublikasikan ya?
B = aku publikasikan tapi tanpa menyebutkan nama. Bagaimana?
A = serius jangan menggunakan nama ku ya? Nama samaran saja. Takutnya dibaca oleh orang yang kita kenal.
B = tenang saja. Aku di sini menggunakan istilah klien.
A = pacar ku sering tidak mengirimiku pesan hingga sehari penuh. Sedih. Sering aku tanyakan, jawabannya selalu membuat aku percaya begitu saja dan aku tidak marah sekalipun tadinya aku ingin marah. Tetapi yang membuatku sedih itu jika tidak ada teman untuk saling SMS, aku pasti memikirkan dia terus. Tetapi jika aku saling SMS dengan teman pria ku, aku tidak mengkhawatirkannya. Dia tidak mengirimiku pesan sehari penuh pun tak mengapa. Bagaimana sebenarnya aku ini? Aku ini benar-benar cinta atau tidak ya padanya? Apa sifatku itu muncul karena merasa dia terlalu mementingkan pekerjaannya dibanding aku? Aku bingung.
B = itu lah efek buruk dari  pacaran. Kita menjadi ketergantungan. Kita menjadi terlalu berharap pada seseorang. Aku sendiri sampai sekarang belum tahu apa tujuan atau esensi sebenarnya dari pacaran itu. Jadi kamu harus tahu dulu apa tujuan dari kamu pacaran.
A = ya untuk menikah. Terus hidup bersama selamanya. Tapi aku kurang yakin dengan hubungan kami.
B = mengapa tidak yakin?
A = banyak wanita di sekitarnya cantik-cantik dan seksi-seksi dan sering mengobrol dengannya. Pria mana yang tidak melirik?
B = jika memang kamu pacaran ingin belajar menjadi istrinya, berarti kamu juga harus belajar memberi kepercayaan padanya. Belajar lah jadi istri yang sesungguhnya.
A = iya, aku belajar buat percaya kepadanya. Tapi bukan berarti dari tadi siang sampai sekarang aku tidak dikirimi pesan juga kan? Sakit kalau harus memaksakan hati untuk percaya dan sabar, sedangkan dia sehari penuh tidak ada waktu untukku.
B = apakah dalam berpacaran ada aturan yang mengatakan bahwa kita harus saling mengirimi pesan singkat setiap hari? Tidak ada kan peraturan yang mewajibkan seperti itu?
A =  memang iya. Tetapi sebagai pacarnya aku kan ingin tahu dia sedang apa. Aku tidah butuh berbalas mengirimi pesan terlalu lama. Kalau memang sibuk, cukup berkata “ aku di sini yang, sedang sibuk”, sudah.aku pasti tidak akan khawatir lagi dan berusaha percaya saja. Sering aku berkata seperti itu kepadanya. Jika dia tidak mengirimi ku pesan singkat seperti ini, kepalaku penuh dengan tanda tanya, gelisah, khawatir, was-was, pokoknya lengkap lah. Terus aku harus bagaimana? Cuek?
B = kamu tahu apa alasannya dia tidak mengirimimu pesan singkat?
A = tidak.
B = kalau begitu kamu harus cari tahu dulu alasannya dia tidak mengirimimu pesan singkat. Ada asap ada apinya lho.
A = itulah permasalahannya. Dia tidak membalas pesan singkatku. Bagaimana caranya aku bisa tahu? Apa aku harus menunggu sampai besok? Sedangkan malam ini perasaanku sudah kacau. Apakah dia tidak tahu bahwa aku mengkhawatirkannya? Takut dia melakukan hal yang tidak-tidak atau terjadi apa-apa  padanya. Apa berlebihan jika seseorang mengkhawatirkan pacarnya? Tidak kan?
B = mengkhawatirkan itu tidak berlebihan. Hanya caramu mengkhawatirkannya yang berlebihan. Coba pikirkan! Apakah dengan mengkhawatirkannya itu akan menjamin dia akan baik-baik saja? Tidak bukan? Sebesar apapun energi yang kamu gunakan untuk mengkhawatirkannya tidak akan pernah bisa merubah takdir apapun. Lagi pula kamu tidak tahu seperti apa posisi dia sekarang. Aku yakin kamu belum tentu bisa melakukan hal seperti yang sedang kamu inginkan sekarang jika kamu berada dalam posisinya sekarang.
A = khawatir itu sudah bawaan sejak pertama pacaran. Jadi aku harus bagaimana? Apa maksudnya aku egois?
B = percaya saja lah padanya. Berikan dia ruang gerak. Kalau egois, aku juga tidak tahu. Yang pasti kamu melihat masalah hany dari satu sisi.
A = pernah aku coba untuk diam. Tetapi jujur, itu justru membuatku berusaha melupakan dia. Tapi akan aku coba lagi. Terimakasih atas sarannya Mr. J***, dkk.
B = jangan sampai dilupakan. Berikan dia sedikit kebebasan. Jika kamu khawatir cukup berdo’a saja kepada Tuhan yang terbaik untuknya. Percaya saja dia sedang melakukan hal-hal baik di sana.
A = ok deh.

Jumat, 28 September 2012

CURHATAN 28 SEPTEMBER 2012 KLIEN 1 : MASIH SAYANG MANTAN



Kira-kira seperti ini dialognya. (dialog sedikit mengalami proses editing dengan tujuan agar kata-katanya menjadi lebih baku, tetapi pada intinya maksudnya adalah sama)
A = klien
B = admin

Setelah smsan beberapa lama tiba-tiba saja.

A = aku galau :/
B = galau kenapa? Cerita lah!
A = aku senang saat melihat dia senang. Aku lega saat melihat dia tertawa. Aku bingung saat lihat dia murung. Aku gelisah saat tidak melihat dia. Apa itu? Apalagi ketika lulus, aku takut tidak bisa mencari tahu kondisi dia seperti apa.  Dan orang itu bukan pacarku j**, aku bingung.
B = sudah berapa lama kamu merasakan hal seperti itu? (dengan gaya seolah-olah dokter kandungan ulung. *Lho kok dokter kandungan? :hammer)
A = sudah lebih dari 2 tahun. Aku pernah memilikinya, tapi kemudian aku lepaskan demi kebaikannya juga. Tapi itu yang membuatnya membenciku.
B =  dia sekarang sudah punya pacar?
A = dulu punya, tetapi sekarang sudah putus. Walaupun di matanya aku buruk sekali, aku tidak bisa membencinya.
B = seberapa besar sayangmu ke dia?
A = entahlah. Aku tidak tahu?
B = kamu berani melakukan hal apa untuk dia?
A = aku tidak berani melakukan apa-apa. Untuk bertemu dia saja aku sudah panas dingin. Terakhir aku hanya memberinya gitar karena dia memang menyukai musik. Itu pun aku titipkan pada temanku. Aku jadi pengecut kalau menghadapi dia.
B = maksudku seandainya dia yang memintamu untuk melakukan sesuatu.
A = minta apa?
B = ya apa saja untuk membuktikan cintamu.
A = entahlah. Sepertinya dia masih belum bisa memaafkanku sepenuhnya.
B =  apa kamu yakin dia memang sebegitu bencinya kepadamu?
A = aku tidak tahu, jok. Yang aku tahu dia benar-benar sakit hati pada ku karena aku memutuskannya dengan alasan aku bosan. Walaupun bukan itu alasanku yang sejujurnya.
B = kamu masih punya pacar?
A = masih. Kamu ingin tahu kenapa aku memutuskannya?
B = kenapa?
A = saat aku dengannya, teman-teman ku maupun teman-temannya tidak setuju dengan hubungan kami. Terlebih orang tuanya tidak menyukaiku walaupun mereka tidak mengenalku. Aku sempat memutuskannya dengan alasan orang tuanya tidak setuju, tetapi dia tidak mau putus dan dia ingin membujuk orang tuanya. Terus aku berkata aku bosan padanya, tetapi dia tetap perhatian terhadapku. Sampai akhirnya aku dekat dengan pacarku yang sekarang. Ini yang membuat dia benar-benar bisa mengakhiri hubungan itu dengan sakit hatinya. Aku hanya tidak ingin dia memberontak kepada ibunya. Karena bagi ibunya aku memberi dampak yang negatif buat anaknya.
B =  berarti dengan kata lain pacarmu yang sekarang ini hanya jadi tempat pelarianmu?
A = jujur. Di antara aku dan pacarku tidak pernah ada kata “jadian”. Kami dekat karena waktu. Aku menyayangi pacarku. Tetapi aku tidak mengerti juga kenapa aku masih memikirkan”nya” (mantan pacar)
B = kalau begitu kamu hanya punya dua pilihan. Putuskan pacarmu atau cintai dia dengan sepenuh hati.
A = aku tidak bisa memutuskan orang semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih orang tuanya sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri.
B = kalau begitu kamu harus pilih pilihan yang kedua. Fokuskan dirimu ke dia. Munculkan cinta dari lubuk hatimu yang terdalam untuknya.
A = aku tidak yakin. Mungkin karena jarak perlahan hubunganku dengannya akan putus. Karena yang aku rasa aku dan dia hanya sekedar saling butuh selama di s********. Tidak benar-benar cinta. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku hanya bingung aku harus seperti apa caranya supaya aku bisa melupakan dia (mantan). Karena aku sduah lelah memikirkannya dan selalu mencari tahu kabarnya dari temanku.
B = berarti kamu selama ini melakukan hal yang tidak ada tujuannya? Buat apa membuang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan mungkin biaya untuk sesuatu yang tidak ada tujuannya. Masih banyak hal berguna yang bisa kamu lakukan dibanding melakukan hal sia-sia seperti itu.
A = terimakasih j** sudah mau mendengarkan curhatku. (admin berpikir “wah, isyarat bakal kabur nih klien, padahal belum tuntas apa yang admin sampaikan)
B = satu lagi pesanku, m**. Jika kita selalu melihat ke masa lalu, kita tidak akan bisa menikmati masa kini dan kita tidak akan bisa mempersiapkan masa depan. Percayalah, de javu itu tidak akan pernah terjadi sama persis. Kamu harus tegas. Jangan sampai kamu harus melakukan kesalahan hanya untuk memaksakan diri membawa masa lalumu ke masa depanmu.
A = terimakasih j**, anda memang sahabat terbaik. :*
B = sama-sama. Itu lah gunanya sahabat. Aku juga senang bisa membantu. Mungkin memang kamu tidak harus mengikuti apa yang aku katakan. Tetapi setidaknya kamu memiliki bahan pertimbangan lain untuk mengambil keputusan.

Case 1 closed. Buat admin lain tidak boleh iri karena hanya saya yang mendapat :*. Hahahaha.


 

KEKUATAN MIMPI



Kesuksesan merupakan hal yang paling menggiurkan bagi siapa saja. Bahkan sebagian besar orang mengatakan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian terbesar yang ingin dicapai dalam hidupnya. Kesuksesan diartikan oleh orang dengan beragam pengertian. Ada yang mengatakan sukses itu adalah memiliki banyak harta, sukses adalah ketika berhasil menciptakan sesuatu yang berguna untuk banyak orang, sukses itu jika kita memiliki pangkat yang tinggi, dan masih banyak lagi pengertian sukses yang berbeda yang diartikan oleh kebanyakan orang. Tetapi pada intinya kesuksesan itu kita anggap tercapai apabila kita bisa mewujudkan cita-cita atau mimpi kita. Dan saya yakin kita semua sepakat bahwa semua kesuksesan itu berawal dari sebuah mimpi. Bagaimana bisa kesuksesan itu berawal dari mimpi? Mimpi merupakan angan atau keinginan yang ingin dicapai di masa mendatang. Mimpi merupakan faktor utama yang memotivasi diri kita untuk mendapatkan, meraih atau memperoleh sesuatu. Semua orang sukses pasti pernah memimpikan kesuksesannya. Tidak ada kesuksesan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa disengaja. Kita ambil contoh dari kesuksesan Pak Mario Teguh sebagai seorang  motivator. Saya yakin dulu pasti beliau pernah bermimpi menjadi seorang motivator. Sehingga mimpi itu yang mendorong beliau untuk melakukan usaha agar bisa menjadi seorang motivator. Lalu bagaimana jika sesorang menganggap kesuksesan itu adalah bisa naik haji. Ternyata dia tidak punya rejeki yang cukup untuk naik haji sehingga dia tidak pernah terpikir untuk bisa naik haji. Lalu tiba-tiba ada orang yang bersedia membiayai ongkos naik hajinya. Bukankah itu adalah kesuksesan yang tidak disengaja dan terjadi secara tiba-tiba? Bukan. Hal itu memang disengaja. Bagaimana bisa? Bukankah kita sudah tahu bahwa Tuhan itu Maha Mendengar dan Maha Tahu? Dia Maha Mengetahui apa yang kita lakukan, yang kita katakan bahkan yang kita pikirkan sekalipun. Orang yang ingin naik haji tersebut saya yakin pernah dengan sengaja berangan atau bermimpi bisa naik haji. Jadi itu bukan ketidak sengajaan. Lalu mungkin dia berdo’a kepada Tuhan agar keinginannya terkabul. Sekali lagi ini merupakan suatu kesengajaan. Sekalipun seandainya dia tidak berdo’a agar keinginannya terkabul, tetapi dia pernah memimpikannya. Sehingga Tuhan menganggapnya sebagai suatu do’a. Yang mana apabila memang orang tersebut sudah cukup pantas mendapatkan mimpinya, Tuhan akan mengabulkannya. Hal itu juga berlaku untuk kita. Jika Tuhan menganggap kita pantas untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, maka Tuhan akan mengabulkan keinginan kita. Apakah cukup dengan mimpi saja? Tentu saja tidak. Kita harus berdo’a dan terus berusaha untuk mewujudkan mimpi tersebut. Posisi mimpi hanyalah sebagai tujuan kita. Tapi tentu saja tujuan itu sangat penting. Kita tidak akan pernah sampai apabila kita berjalan tanpa tujuan. Kebanyakan dari kita hanya bermimpi, lalu kita menunda usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut. Itu adalah hal yang salah. Saat muncul mimpi dalam diri kita, segera lah mulai usaha untuk mewujudkannya. Karena, apabila kita menunda untuk memulai usaha kita, mimpi kita itu akan menguap dan hilang begitu saja.
Jadi, jika ingin sukses mulailah bermimpi. Bermimpi lah seindah mungkin. Jangan takut mimpi itu tidak terwujud. Selama kita masih percaya akan kekuasaan Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin selama kita pantas mendapatkannya. Setelah bermimpi, segera lakukan usaha untuk mewujudkan mimpi kita sembari kita terus berdo’a. Agar mimpi kita segera tercapai, teruslah perbaiki diri, pantaskan lah diri sehingga kita menjadi berhak untuk memperoleh apa yang kita inginkan.